Yayasan Titimangsa

Sastra · Panggung · Ingatan

Alih wahana sastra Indonesia

Sastra, dihidupkan di panggung.

Titimangsa membawa karya sastra Indonesia dari halaman buku ke atas panggung: teater, musikal, dan monolog yang dipentaskan di gedung pertunjukan, di taman kota, hingga di layar daring.

Berbasis
Jakarta Selatan
Fokus
Alih wahana sastra
Bentuk
Teater, musikal, monolog
Mahkota, pertunjukan Titimangsa
Gulir untuk masuk
Cara kami bekerja

Sebuah novel menyimpan suara yang menunggu untuk didengar. Kami membacanya pelan-pelan, mencari tubuh yang tepat untuk setiap kalimat, lalu memberinya cahaya, musik, dan ruang. Cerita lama tidak kami salin. Kami pentaskan ulang, agar ia menemukan penonton baru.

Titimangsa
Produksi pilihan

Dari halaman, ke panggung, lalu ke ingatan.

Tribute to William Soeryadjaya & Ramadhan KH, Pertunjukan & peluncuran buku

Tribute to William Soeryadjaya & Ramadhan KH

Pertunjukan & peluncuran buku

2024
Lestari Tradisi: Sukabumi 1980, Tari & teater

Lestari Tradisi: Sukabumi 1980

Tari & teater

2023
Sang Kembang Bale, Monolog · Ariel Tatum

Sang Kembang Bale

Monolog · Ariel Tatum

Arsip
Sudamala: Dari Epilog Calonarang, Dramatari, panggung terbuka

Sudamala: Dari Epilog Calonarang

Dramatari, panggung terbuka

2022
Anugerah Terindah, Teater musikal, tayang di Mola

Anugerah Terindah

Teater musikal, tayang di Mola

2020
La La Love, Teater musikal di taman

La La Love

Teater musikal di taman

2019
Sedang tayang

Mereka yang Menunggu di Banda Naira.

Pertunjukan teater alih wahana dari novel “Bung di Banda” karya Sergius Sutanto, diterbitkan oleh Gagas Media. Dipentaskan 17.12.2021.

Mereka yang Menunggu di Banda Naira
Yang kami pegang

Tiga hal yang menjaga setiap pementasan.

01

Sastra adalah naskah pertama.

Setiap pertunjukan berangkat dari sebuah teks, entah novel, lagu, atau ingatan sejarah, dan setia pada jiwanya.

02

Panggung bisa di mana saja.

Gedung pertunjukan, taman kota, atau layar di rumah. Yang penting ceritanya sampai.

03

Penonton menyelesaikan cerita.

Kami menyiapkan ruangnya. Makna terakhir selalu lahir di kursi penonton.

Tentang

Kami memindahkan cerita dari halaman ke panggung.

Titimangsa kerap berkonsentrasi pada usaha adaptasi atau alih wahana karya sastra Indonesia ke dalam seni pertunjukan. Novel, cerita sejarah, hingga lagu-lagu yang akrab di telinga kami olah menjadi pementasan.

Karya kami hadir dalam banyak bentuk: teater di gedung pertunjukan, musikal di taman kota, monolog yang intim, hingga pertunjukan yang ditayangkan secara daring.

Di setiap produksi, kami bekerja bersama penulis, sutradara, aktor, dan para penata, agar sebuah kisah tidak hanya diceritakan ulang, tetapi dihidupkan kembali.

Mereka yang Menunggu di Banda Naira, 2021
Konser musikal Memeluk Mimpi-Mimpi
Tribute to William Soeryadjaya & Ramadhan KH, 2024
Berbasis
Jakarta Selatan
Fokus
Alih wahana sastra
Bentuk
Teater, musikal, monolog
Panggung
Gedung, taman, layar daring
Proses produksi

Dari halaman buku ke malam pementasan.

  1. 01

    Membaca

    Semua dimulai dari teks. Kami membaca karya sumbernya berulang kali, mencari adegan dan suara yang ingin dibawa ke panggung.

  2. 02

    Mengadaptasi

    Penulis naskah dan sutradara menerjemahkan bahasa halaman menjadi bahasa panggung: dialog, gerak, musik, dan cahaya.

  3. 03

    Berlatih

    Aktor, penata, dan kru bekerja berminggu-minggu sampai setiap adegan terasa jujur, bukan sekadar hafal.

  4. 04

    Mementaskan

    Lampu padam, layar terbuka. Di gedung, di taman, atau di layar, cerita itu akhirnya bertemu penontonnya.

Mulai

Sampai jumpa di kursi penonton.

Ingin reservasi, mengajak berkolaborasi, atau sekadar bertanya tentang pementasan berikutnya? Tulis kepada kami. Kami akan membalas.

Dari arsip

Kisah-kisah yang lebih sunyi.

“Sebuah monolog tentang nyanyian yang dititipkan pada angin.”

Sang Kembang Bale

Monolog · Ariel Tatum

“Rambut sebagai mahkota perempuan, dan segala yang ia simpan.”

Mahkota

Happy Salma · Ariel Tatum · Artasya Sudirman

“Di tepi sejarah, seorang perempuan berdiri dengan sepinya sendiri.”

Di Tepi Sejarah: Sepinya, Sepi

Laura Basuki · Sutradara Heliana Sinaga

Di atas panggung

Mereka yang pernah berdiri di sini.

    Pertanyaan

    Sebelum Anda datang.